Sabtu, 17 Agustus 2013

Pendidikan Di Jepang, beda dengan indonesia pokoknya. :P

Seorang profesor asing yang mengajar disalah satu universitas tokyo pernah mengatakan "sebetulnya orang jepang itu tidak  terlalu pintar.mereka tidak menonjol dalam penemuan atau penguasaan ilmu-ilmu sosial, tetapi genius dalam menerapkan ilmu sains dan teknologi" . Diberikan contohnya bahwa penerima  hadiah nobel dari jepang yang berjumlah 12 orang umumnya dibidang eksakta. Jumlah ini katanya sama dengan yang dimiliki india atau negara kecil belanda dan  belgia di eropa.





Pernyataan yang menggunakan tolak ukur demikian telah mengundang silang berbagai pihak. Namun semuanya berakhir dengan baik, karena Kementrian Perdagangan Intenasional dan Industri Jepang sendiri mengakuinhya bahwa mereka juga melakukan tolak ukur tesebut dalam membandingkan karya warganya dengan orang luar.



Majalah US News and Word Report melakukan studi tentang daya adaptasi murid-murid sekolah lanjutan dinegara adikuasa seperti AS, Uni Soviet, Jepang, Inggris, Jerman dan Prancis. Hasilnya menunjukan bahwa siswa sekolah lanjutan jepang untuk bidang matemtika dan sains adalah terbaik dibandingkan dengan sekutu-sekutunya, sedangkan untuk bidang sosialdan bahasa (terutama bahasa asing) terendah diantara  negara-negara diatas.

Penemuan ini menguatkan argument sang profesor diatas serta menghibur duka sang mantan Perdana Mentri Nakasone. Ternyata kata orang-orang dan pendukung Nakasone bahwa mutu pendidikan SD sampai dengan SMA Jepang adalah salah satu yang terbaik didunia.


Lamanya pendidikan di jepang sama dengan indonesia, yakni 6, 3, 3 dan 4 yang artinya 6 tahun di SD,3 tahun di SLTP, 3 tahun di SLTA dan $ tahun di universitas, demikian pula dengan kurikulum yang relatif sama. 


Yang membedakan pendidikan antara indonesia dengan jepang adalah pelajarannya dijepang lebih ditekankan pada visual dari pada teori, serta wajib belajar sembilan tahun benar-benar ditekankan sehingga tidak ada seorang jepang pun yang buta huruf. 

Jepang juga memiliki ketegasan dalam hal pendidikan yakni pendidikan dinegara tersebut minimal SLTP dan jika ada anak jepang dalam usia sekolah tidak sekolah maka orang tua dari anak tersebut akan dihukum.


Sejak kelas SD anak jepang sudah dicekoki dengan motto "negerimu ini miskin karena banyak memliki batu dan air saja". Motto ini membentuk jiwa anak jepang menjadi keras dan pantang menyerah sehingga mereka harus   belajar dan berusaha keraas  sejak kecil agar mereka tidak miskin. Tidak ada dalam benak mereka negeri "gemah ripah loh jinawi" tanah air kaya raya, nyiur melambai, kolam susu, dan dongeng-dongeng negerinya dimasa lalu. 

Prinsip ini tertanam sejak kecil sehingga mereka terus berusaha, tidak malas, rasional, disiplin dan sifat-sifat lain yang penuh tantangan sehingga mereka menjadi bangsa yang aktif, dinamis, optimis, dan ofensif. Prinsip-prinsip hidup dan keberhasilan mereka dalam membangun bangsanya bukanya tidak membawa masalah karena sifat yang aktif dan ofensif yang ditunjang oleh nasionalisme berlebihan menyeret mereka keperang dunia ke II.

Jepang sekarang merupakan satu-satunya negara Asia yang berpredikat negara maju. Semuanya ini sebagai produk sistem pendidikannya yang ketat. Sementara pola hidup mereka yang "konsumtif" merupakan akibat keberhasilan ekonominya. Jepang sudah mencapai pembangunan ekonomi, tinggal landas sudah lama dilaluinya yakni pada saat pemerintahan meiji diakhir abad ke-19.

Ditulis      : Bagus J
Referensi : Belajar Dari Jepang (Bob Widyahartono)